31.12.09

M. Aan Mansyur: SEBUAH POHON

KECUP yang kau tanam di keningku
kini telah tumbuh jadi pohon lebat

Akar, batang dan cabang-cabangnya kuat
tempat anak-anak senang memanjat

Sesekali
tidakkah kau ingin datang
mengecap kecut buahnya?



M. Aan Mansyur ; Aku Hendak Pindah Rumah, halaman 99

25.12.09

Doa memanggil bintang jatuh



Terimakasih wahai pantulan senja pada danau
Yang telah menyampaikan salamnya padaku
Pesan yang begitu hangat dan menenangkan riakku yang sedang resah

Tapi aku masih rindu
Sementara langit memudarkan pandanganku
Kuharap kamu menemaniku lewat satu titik lampu pijar dari bukit seberang
Atau mungkin lewat salah satu bintang yang ada di atapku?

Kalau iya,
Katakan padaku kapan bintang itu jatuh ke danau tempatku berada
Agar aku bisa sekejap memejamkan mata dan mengucap doa



(Teruntuk sang serigalau)
25.12.9

24.12.09

#20


menyimpan lembab diantara peti-peti keramat * langit mengabu batu berlumut*
aroma mengental di laut pekat *


aku benci perasaan hari ini.
bukakan gordennya!!







gambar: treasure for pleasure

#19


sebentar lagi saatnya
lahar akan keluar.
sabar, sayang. sabar.

mimpi

semalam saya bermimpi melahirkan. tetapi pakai jalur caesar. dibuka bukan di bagian rahim, tapi di kanan badan. ceritanya itu melahirkan tapi saya ngga melihat ada bayi atau tangisan disitu. dan seingat saya, saya sudah mengeluarkan 2 bayi dari tubuh saya. lalu dokter bertanya, ini masih mau ngga yang ke-3? orang diruangan itu berpendapat pro-kontra. ada yang bilang cukup 2, tapi saya mau 3.
saya tidak melihat bayi.
saya tidak mendengar tangisan.

24.12.9

#18

Satu persatu pergi
Sepi

#17

gigi yang berkarat
tidak usah didalam mimpi, sini aku yang tanggalkan sekarang!

#16

diam-diam alam telah membekalkan ilmunya kepada semua insan yang hidup bersamanya kita akan merasa kaya dan kenyang dengan makanan yang dikunyahkan belantara dengan mata air yang menghilangkan dahaga dengan bongkahan emas dari perbukitan dengan belaian kapas dari payung awan dengan rintikan syukur dari embun dengan ketegasan dari petir gemuruh dengan keintiman persetubuhan dengan mata angin


(Perjalanan dari Baso ke Payakumbuh.
Pantas saja seniman dan sastrawan yang ber-ibu Padang mempunyai suatu kekuatan entah apa itu dibalik perasaan dan pemikiran yang melandasi karya-karya mereka. Mereka hidup di dalam alam yang masih terjaga. Rumah mereka kaya. Hutan mereka berjaya. Bukit Sumatera yang sempurna.)

24.12.9

#15

HARTA KARUN TERTIMBUN DIBAWAH LANTAI RUMAH Harta karun tertimbun dibawah lantai rumah Harta karun tertimbun dibawah lantai rumah Harta karun tertimbun dibawah lantai rumah

Harta karunku tertimbun dibawah lantai rumahmu
Bersiaplah,
Nanti malam aku akan mengetok pintu lalu menggali lantai rumahmu



HARTA KARUN TERTIMBUN DIBAWAH KOTA Harta karun tertimbun dibawah kota Harta karun tertimbun dibawah kota Harta karun tertimbun dibawah kota Harta karun tertimbun dibawah kota

Harta karun mereka tertimbun dibawah kotaku
Berjagalah,
Esok pagi mereka akan menandatangani surat dan memindahkan kotaku

#14


Anak lelaki kesayanganku
Mati sudah


Koto Gadang,
22.12.9

#13


Kamu berhutang pada sepi atas setiap gelak tawa yang kau keluarkan.


Koto Gadang
21.12.9

#12

HARTA KARUN TERTIMBUN DIBAWAH LANTAI RUMAHMU



Sawah Lunto,
24.12.9

16.12.09

desember

mengamplopkan bukti-bukti yang sudah terkumpul perlahan-lahan tapi pasti mencoba membatasi tapi tak terbendungi
lampu-lampu jalanan lumpur debu pada celana dan sendal jepit helai daun teh aroma hutan pinus belerang yang menyengat angin yang dingin tubuh yang hangat nafas yang panas
matahari sudah berhasil melarikan diri membalas dengan apa yang tidak pantas disebut dengan dendam mengacaukan arah halu bintang awan dan angin untuk turun ke titik membumi di puncak sebuah bukit
malam ini akan menjadi malam terakhir di bulan desember

13.12.09

menculik matahari disaat gelap


malam itu menepi di jalan berbukit
malam itu tidur di dekat pantai
malam itu hanya ada savana dan padang pasir
malam itu mendengar suara ombak ketika terjaga
malam itu bintang menyelimuti
malam itu embun di kaca mobil sudah menutupi pandang
malam itu sesekali motor atau truk melewati tidak peduli
malam itu berangin, membawa pesan yang dingin
malam itu hanya berselimutkan kain kasar yang tipis
malam itu sesuatu tak membiarkanku untuk terlalu lelap
malam itu meresahkan suara deburan ombak di kejauhan
malam itu kawanan jangkrik tak henti-hentinya bernyanyi
malam itu ada seseorang yang telah menculik matahari, pulas

saya payah

hari ini super duper menyesal sekali, karena:

1.dipijet ekstreem 2 hari berturut-turut pada 3 kesempatan yang berbeda (pijat badan, totok muka, creambath)
2.ngga enakan untuk bilang

samadengan dipijetnya keras banget tapi ngga enak protes

huah, manusia apa sih saya. Kok susah banget untuk ngomong, bilang, mengeluarkan suara. Padahal jelas2 sakit. Malem ini rasanya seperti memar.
Dita, dita. Kok bisa2 nya sih. Sampai dirimu sendiri yang protes.

4.12.09

halo, selamat pagi









artefak yang tertinggal di buku sketsa,
suatu kejadian di lapangan miring
bersama Riri kanyol dan irin berebut kertas, cat air dan spidol

3.12.09

#11

radio ini tidak berhenti mengoceh!
mending kalau lagu, tapi ini hanya suara penyiarnya yang tidak berhenti curhat tentang masalahnya dari tadi penuh basa-basi
argh, aku tak butuh ocehanmu
berikan aku lagu!
lagu yang bisa menenangkanku
warung kopi yang redup ini
tidak terlalu banyak pengunjungnya
tidak banyak juga yang peduli dengan suara radio ini
mereka datang menyeruput kopi bersama temannya
tapi aku datang sendiri
mau tidak mau aku membiarkan suara penyiar ini menemaniku
cerewet sekali!
membuatku tak berhenti bersumpah serapah

halo hatiku..
maafkan aku ya,
kamu dari tadi ngambek terus sama aku
apakah kamu kebrisikan mendengar caci maki dan kata-kata kotorku?
bergema keras di dalam tubuh dan jantungku,
maaf ya aku tidak dapat mengontrolnya.
maksudnya, aku tidak peduli apakah ini akan mengganggu yang lain.
aku sama saja seperti penyiar itu, dong?

ah, mungkin memang.


13:54 10/10/2008

#10 (cerpen lama)

Ketika aku sedang asyik melihat warna-warni yang terus melingkar di balik mata terpejamku, tiba-tiba kudengar suara angin ribut.
Pasir-pasir disekitarku berlomba mengejar untuk menerjangku. Membuat suatu formasi besar dan terus berputar. Kupikir, apakah akan ada tsunami sebentar lagi? Visiku langsung memikirkan kematian, sakratul maut, nafas terakhir dalam hidupku. Bagaimana rasanya mati? Bagaimana paniknya aku? Apa yang pertama kali aku lihat ketika aku tidak berwujud lagi? Pengadilan yang bagaimana? Siksaan apa? Jalan apa? Surga atau neraka? Sial!

Aku berada ditengah topan pasir. Pasir-pasir kecil itu sekarang mempunyai kekuatan besar dan dengan mudahnya menyakiti kulitku. Mereka bersemangat sekali untuk berganti peran, menginjak-injak aku yang selalu bergulingan diatas mereka. Mereka ingin mengendalikan aku. Tidak! Jangan!
Dengan penuh paksaan mereka menusuk-nusuk mataku. Mereka menjadi hirupan nafasku. Masuk lewat telingaku, mulutku, kemaluanku.


Mereka meracuni pikiranku. Aku penuh. Aku berat. Aku terbebani... Ini terasa sangat menyakitkan. Kenapa harus aku yang merasakan seperti ini?
Saat ini aku bingung apakah aku akan terselamatkan? Oleh siapa? Tidak ada satupun orang yang melewati pantai ini. Apakah aku akan ditemukan di muara terakhir saat matahari menjelang? Atau aku terkubur dalam-dalam di bawah pasir hingga tidak ada satu binatangpun yang mencium bau busuk jasadku..
Aku tidak mau mati dengan cara seperti itu!
Aku mau dikenang. Aku mau mati elit. Seperti di rumah sakit karena suatu komplikasi. Sebelumnya aku mau banyak beramal untuk anak-anak yatim piatu ataupun menulis buku biografiku. Dan tidak lupa, aku harus mempersiapkan beberapa karya seni sebelum aku mati sebagai warisan dana untuk anak cucuku. Mereka dapat bersyukur akan kematianku. Aku ingin kuburanku mempunyai kompleks yang luas, yang paling dekat dengan pompa air dan dibawah pohon kamboja yang rindang. Agar khalayak ramai yang menagisi kematianku dapat dengan khusuk mengantarkan kepergianku.

Apa artinya aku mati kalau tidak ada satupun yang mengetahuinya?
Tanpa ada satupun yang mengenangku?

Kalau begitu, rasanya hidupku hanya tercatat didalam kantor kelurahan saja.


Aku merangkak menjauhi pantai. Dan sepertinya pusaran pasir tersebut sudah jenuh bermain-main dengan aku.
Aku susah melihat. Bulan purnama terlihat seperti bola lampu di kejauhan yang sudah hampir padam. Air mataku mengalir. Ingusku keluar. Respon otomatis yang cukup gesit untuk mengurangi kepedihanku. Luka akan sembuh seiring waktu. Seiring ku dapat menyesuaikan diri. Seiring ku dapat mengendalikan diri.

Aku berlari menuju bilik. Menuju tempat teramanku. Menuju panggilan hatiku. Aku berlari membelah hutan, berkelok-kelok. Sering aku terperosok karena pandanganku buram, nafasku terengah-engah. Tetapi aku ingin pulang. Aku harus pulang. Aku takut. Ingin kuberitahu orang rumah apa yang terjadi pada diriku tadi. Apa yang kualami, apa yang kulihat. Aku mencari orang untuk membangunkanku dari mimpi ini! Seringkali aku mengeluarkan liur untuk membuang sisa pasir. Aku terus berlari. Keringat bercucuran membasahi pakaianku.

Gapura yang kukenal. Bau tanah yang selalu kuhirup seumur hidupku. Rumah tanpa pagar yang menjadi naungan. Aku kembali ke tujuanku.
Rasa aman kembali menyelimutiku.
"Ibu.."
"Bu..?"
Kuketuk pintu rumah perlahan, berusaha membangunkan ibu. Aku ingin dipeluknya. Aku ingin diketeki ibu.
"TOK TOK TOK..."
Aku mengetuk semakin keras.. semakin cepat.. dan semakin tak sabar.
"Ibu! Buka bu... bangun..."
"Ayah!!! Yah!! Dik!!! Adik!!! Bukakan pintu!"
Aku mulai panik. Kenapa di rumah yang nyaman ini masih bisa kepanikan menyerang? Kalau begitu dimanakah tempat yang dapat menenangkan aku?
Aku mulai menggedor dan akhirnya menggebrak pintu secara paksa.

Kosong.. Semua kosong.Lampu juga padam.

Kemana mereka? Aku tergesa memeriksa kamar mereka, dapur, kamar mandi... Di rumah petak ini mustahil mereka dapat mengumpat. Ini bukan waktu bercanda! Kemana mereka di pagi buta begini? Kenapa mereka meninggalkan aku?

Aku menangis sejadi-jadinya. Banyak petir menyambar jantungku. Kerikil berusaha masuk ke kerongkonganku yang kering. Aku merasa mual. Mual sejadi-jadinya. Aku memuntahkan pasir hingga segunungan besar. Aku muntah pasir sambil menangis..

Tergesa kuhampiri rumah-rumah tetangga. Semuanya kosong! Semuanya tidak berpenghuni. Poskamling juga tidak ada yang jaga. Hanya tersisa sebuah kentungan dan sarung yang menggantung.

Desa ini gelap gulita. Desa ini desa mati.

Disini hanya ada aku.
Aku.
AKU.

Aku akan menemani diriku sendiri.
Aku akan berbicara dengan diriku sendiri.
Aku akan meminta sebuah saran dengan diriku sendiri.

"Sekarang apa yang akan kita lakukan?"
"Kita? Kamu kali.."
"Aku menganggap kita ini dua yang dijadikan satu.. Kamu kan yang sering tidak menyutujui keinginanku. kamu pula yang suka maksa aku ketika aku tidak mau."
"Loh, kenapa kamu menyalahkan aku? Kamu saja yang bodoh. Kamu tidak dapat menerima dirimu sendiri"
"Semua ini gara-gara kamu! Ulah kamu membuat ibu, ayah, adik dan semua yang kukenal menjauhiku! Menghilang dari hidupku!"
"Kamu!"
"Kamu..!
"Heh, kamu!
"Bukan aku, bangsat!

Aku ingin mati!!! Tuhan, aku ingin mati! Apa artinya aku hidup dengan kenyataan seperti ini?
Malam ini terlalu damai, Tuanku,, Terlalu sunyi.
Saat ini mungkin aku akan sangat bersyukur jika ada orang yang mencuri perabot rumahku. Agar aku dapat mengetahui bahwa masih ada orang disini.
Saat ini aku akan bersyukur masih ada kekacauan di negri ini. Masih ada penjarahan. Masi ada orang minta-minta yang selalu meramaikan jalan.
Karena menjadi sendiri itu menakutkan, Tuan..
Bagaimanapun aku butuh mereka.
Bagaimanapun mereka masih berwujud manusia dan mempunyai keyakinan.

Aku menenggak beberapa butir pil sanax dengan alkohol.Barang-barang ini selalu kupersiapkan di dalam lemariku. Mereka adalah teman yang tak pernah menyudutkanku. Kupejamkan mata, merebahkan diri di kasurku. Kasurku yang hangat, sekarang terasa dingin. Seolah dia sudah tidak mengenal pemiliknya lagi.Aku ingin mengakhiri tugasku di desa yang sepi ini, dan lanjut ke tugas berikutnya. Ijinkan aku.. Lupakan saja teoriku tentang biografi.. lupakan saja teoriku tentang membuat karya seni sebelum mati. Toh aku bekerja ternyata bukan untuk diriku. Tapi untuk mereka.. Omongkosong soal ekspresi jiwa. Ini semua tentang mereka.. Aku terbatuk-batuk, masih ada sisa pasir yang terlempar dari nafasku. Pandanganku memburam. Dan akhirnya gelap sama sekali..

......


Burung berkicauan dan udara terasa segaar sekali. Dengan berat kupaksa kelopak mataku untuk membuka. Arrg..susah... Dengan mata terpejam kudengar banyak suara diluar sana.. Suara tukang sayur, suara menyapu lidi, suara anak-anak berangkat sekolah, dan... suara ibuku! Itu pasti suara ibuku!
"Ibu.. Ibu..!" Aku berusaha bangun tetapi tak satupun anggota badanku yang dapat bergerak. Mata ku paksa sekuat tenaga untuk dapat terbuka..Ayoo! Ayoo.Ahh!! Kenapa aku tidak bisa bangun? Apakah ini mimpi? Tapi semua terdengar sangat nyata! Aku ingin bangun.. "Bismmill.... Argh!
Sampai-sampai berdoa pun aku tidak bisa.. Lidahku tidak bisa mengecap. Bahkan suara dalam hatiku tidak sepenuhnya berfungsi. Bangunkan aku.. Bangunkan aku..


......


Aku terbangun..
Dengan pasir yang menutup tubuhku.
Aku kembali berada di pantai itu. Tetapi kemana ombaknya? Kenapa luar biasa surutnya ketika bulan sedang bulat-bulatnya?

Aku terbangun..
Dan dan menyadari ada ombak setinggi 20 meter menghampiriku.
Tsunami datang.
Aku lari sejadi-jadinya! Aku memang ingin mati, tetapi aku tetap melarikan dari kejarannya!

Dan pelarian hidupku dimulai lagi..




9.30.2008

jangan ceritakan pada siang


ketika matahari menutup diri aku pun membuka kalbu mengeluarkan segala erangan menyapa semua peluh

di sofa yang terasa dingin itu aku menengadah memijat tengkuk ku secara paksa menduakan cahaya ruang

berteriak bergumul dengan siapapun disana aku akan menjawab segala pertanyaanmu asal jangan ceritakan pada siang dengan bayangan




21:51 06/10/2008

# 9


aku terpaksa aku dipaksa mengarungi dunia keras panas apakah ini alur yang benar
tetapi kini aku memintamu untuk memaksaku lebih kuat memaksaku dengan kejam toh, ibu pun memaksaku untuk keluar darinya kalau tidak aku mati. aku mati dalam surgaku tetapi dengan energimu aku masih hidup dalam bara ku



6.10.8

pesan


Malam ini tidak berangin.
Tirai lamun menanti.
Suara tetangga gaduh terdengar di langit sunyi.
Apakah itu pesan untukku?




9.8

sayang aku malang


lelaki sayang,
lelaki malang

pandanganmu masih remang
serangan fajar terus menyerang
berbagai jalang selalu terbayang

lelaki sayang,
lelaki malang

kau masih terkekang
ditengah ganasnya perang
yang jauh dari terang
yang jauh dari menang

lelaki sayang,
lelaki malang

aku adalah karang
yang selalu dilanda pasang
dikala kau mencari kerang
dengan warna benderang


lelaki, lelaki..
sayang, aku malang.






18.08.2008
gambar: Good Morning, Ms.Vallus

1000 pintu


aku hanya satu,
dari seribu pintu
dari segala mara
dari segala peluang

aku hanya satu,
dunia dibalik dunia
dimana ketika kau memasukinya
tidak ada kompas yang tepat
tidak ada bayangan yang menunjukan

angin pun melingkar
mengisi arah
memenuhi ruang sempit dalam bilik

sungguh pun,
hujan masih berupa es
es masih berupa awan
awan masih berupa embun
embun masih berupa mata air

inilah saat dimana waktu berhenti berputar
dan jantung berhenti berdetak

aku hanya satu
dari seribu pintu
dimana pintu tak berkunci,
dan kunci tak bergerigi.



4:10pm
10138

#8 (smiley blue)


22:12 06/10/2008


aku membuka tirai dibalik pintu itu
melangkah perlahan sembari menatap sekeliling ruang
dingin
gelap
tetapi bingar oleh suara musik yang menggelegar
mencoba menghidupkan ruang
mencoba mengidupkan kepala-kepala manusia yang sedang termenung

murung menghadap ke lantai
memandang sepatu-sepatu mereka
memandang kaki-kaki mereka
aku duduk di sofa dan kembali memperhatikan gerik mereka.

cahaya datang!
tetapi tanpa bayangan,
sungguh aneh pikirku.
aku tidak familiar dengan cahaya itu, tetapi mereka mngenalnya dengan akrab
keluar senyum kecil di bibir mereka yang nyaris tak tertangkap oleh pandanganku.

baiklah, aku ikut dalam permainan.
permainan yang aku tak tahu cara menangnya
seperti menerobos labirin yang berliku.

sangat menantang, pikirku.
aku ingin mengetahui rahasia dibalik senyuman mereka.

kami membagi cahaya tak berbayang itu
dia tersenyum,
kamipun tersenyum

tubuhku bergetar
aku menelponnya
memperhatikannya
mencari perhatiannya
mendengar suaranya membuatku terangsang
menggema dalam otakku


kusingkirkan telfon itu
hei, ingat, aku jauh dari rumah.
"jagalah api dalam tungku yang kau bawa agar tidak padam."

keringat mengucur
mereka berputar-putar
membentuk formasi, berpegangan tangan
memintaku secara halus
menghanyutkanku,


17:14 09/10/2008

mereka kini otakku.
mereka memerintahkan indera motorikku
aku kacungmu.
perintahmu adalah keinginanku.

malam sepi yang hingar
nafas sesak tak berasap
pintu yang berwibawa, membiarkan siapapun masuk dan pergi
entah ingin menetap ataupun kembali
entah karena muak ataupun ingin lari dari mimpi


aku memperkenalkanku kembali pada mereka
dengan bantuan cahaya
"halo, ini aku.."

sial.mereka tidak peduli.
bagaimana caranya memperkenalkan diriku?

aku mengeluarkan bola-bola bara, lara, perih, senang, sedih dari perutku.
menjejerkannya di lantai kotak-kotak coklat
ada yang redup, mengeluarkan sedikit cahaya, berlendir..

"ini aku, teman."
aku tak peduli kalian mau bilang apa. tapi mengeluarkan mereka semua membuatku menjadi nyaman.
menjadi kosong untuk kalian isi kembali.
aku tak mengenal kalian. tapi aku bisa melihat. aku tetap menerima.

lampu-lampu yang biasanya indah tidak kuperdulikan,
walau bergerak,berminyak, memutar mencari perhatian kepada semua orang.
maaf ya.. aku mengerti perasaan mu, lampu.
tapi kini ku jauh lebih penting. aku sedang berdamai dengan diriku.

ketika aku mendekatiku
birahiku membara
aku mencari air! air yang sangat hangat.
agar baraku memadam,
dan asapnya memenuhi relung paru-paruku.

terhisap
masuk ke darahku
mensuplai kesemua jaringanku
membunuh otakku secara perlahan.

cumbuan itu..
mencoba meredamkannya.
bukan, bukan air ini yang bisa meredamkanku!
ini justru membuatku semakin terbakar.
ku mencari cari di tiap persimpangan
mencari cari di tiap pojokan
diatas sofa!
dibangku kosong!
di jendela-jendela yang tak bertirai
di tiap limpitan daging yang memerah

tidak ada. air yang hangat seperti dulu
yang terekam dalam-dalam dalam memoriku.
apakah aku pernah mengalaminya?
atau itu hanya halusinasiku saja.

kusemakin berang!
memeluk segala tiang-tiang yang kutemui
menyingkirkan segala benda padat yang kulalui
mencakar, berkoar,

dengarkan aku kawan.
dengarkan aku!
lenguhan panjang ku..
lenguhan diantara nafas-nafas pendekku.

aku pun terdiam
diam dari bahasa kalbu, bahasa ibu.
ibu..
ibu..
aku tak mau kembali padamu, jangan sekarang.

jangan tunggu aku, karena aku sedang berkelana.
menikmati setiap pijakan tanah yang kulalui
menyasarkan diri.
memang aku tersesat. aku tersesat karena mempunyai tujuan.
kalau tidak berjalan menuju tujuan, ya bagaimana bisa tersesat?

aku tak peduli aku menang atau kalah dalam permainan
tapi setidaknya aku berusaha melaluinya!

jalan ini masih membayang
ketujuan yang tidak terbayang.
sekarang aku duduk di kursi.
memandangi semua teman yang memandangiku.
berkomunikasi dengan mata.
berkontraksi dengan muka.

kutundukkan kepala menghadap lantai.
kupejamkan mata.
tergambarkan alas kaki mereka dalam pikiranku.

detail.

#7

semua benda mengeluarkan suara
televisi yang menyuarakan iklan
komputer yang memutar lagu
radio warung seberang yang memutar dangdut
masjid yang mengkumandangkan azan

aku bisu
dan semua suara masuk di kepalaku
terjebak didalam
tak ada jalan keluar

kunanti wadukku membludak.


22:31 06/10/2008

2.12.09

Tulisan dan pesan dari guruku

.. Impian itu tak bisa dikejar Dit. Keinginan dan kebutuhan yang bisa dikejar. Impian itu semu.



Jadikan persahabatan bagai kepompong untuk suatu saat menjadi kupu-kupu yang akan menghasilkan kepompong yang lebih baik. Maya dengan retorika-dingin-logis, Dita dengan romantis-dilematis-penuh gejolak di dalam, Uci dengan melankolis-inspiratif-iseng, Dillah dengan logika-ekstrovert-emosional-romantis



Belajar bicara agar tidak mengalami nasib yang sama dengan saya, sebab orang Indonesia menghargai kemampuan seniman berbicara dibanding karya yang berbicara. Lain hal jika Dita bermain di luar. D luar sana, makin lama saya akan hilang dari dalam dirimu, berbeda dengan TA dimana kita berkolaborasi. Pikiran, sense, pemahaman saya masuk ke dalammu dan sebaliknya. Gaya pengkaryaan yang puitis dan romantis tapi dingin perlu dikembangkan selain kesukaanmu mengatur pengamat untuk mengikuti karyamu dan keinginan untuk merasakan ruang. Simpan sms ini untuk selalu dibaca ulang ketika kamu buntu. Lihat pembahasan dan pembacaan karyamu dari saya. Tulis di kertas dan simpan untuk sewaktu2 dibuka dan dibaca jika nightmare. Senang berkanalan dengan Dita karna kamu berhasil membuktikan pada dirimu sendiri dan saya bahwa kamu cocok masuk patung.



"Apa yang sedang kamu lakukan?"

"Apa yang sedang kamu lakukan?"

"Apa yang sedang kamu lakukan?"

"Apa yang sedang kamu lakukan?"



D,D&U, studio patung pasti JADI sepi tapi dunia patung pasti MENJADI ramai dengan ADAnya kalian. Jadi terkenal ya, sebab kalau tidak maka saya mengulang kesalahan dosen2 saya dahulu, yaitu menjadi terkenal dan kaya untuk dirinya sendiri dan tak ada muridnya yang diangkat menjadi penerus.



Tidak terasa tidak sampai 30 hari lagi kalian sudah bukan murid saya lagi :|



cari calon suami yang masa depannya bagus Dit, yang bisa membawa dan memberi kesempatanmu untuk terus berkarya dan keliling dunia.



Saya cepet-cepet ke Belanda deh, biar dikangenin juga.


T E R L A M B A T! Tapi ada celah dikittt banget untuk memaafkan anak yang bandel :p



Makanya banyak yang jadi pelacur, easy money, tidak perlu ketrampilan dan pendidikan hanya cukup punya V. Saya resah sekali. Mana 60-70% penduduk Indo adalah perempuan.



Sarjana harus dapat melihat masalah, menganalisis dan memecahkan bukan menghasilkan masalah baru bagi orang lain... dengan cara demikian kelak dapat lebih tangguh dan dapat menghadapi permasalahan lebih objektif walau keputusan akhir dapat sangat subjektif.



Coba cari ide lain? Daripada nggak lulus atau pas dipamerin kita masuk penjara ber 2 kan berabeh diperkosa napi sungguhan. Serem.


Oleh karena wanita adalah unsur jang penting didalam kemasjarakatan. Tidak bisa kita bantah. Masjarakat tidak bisa sempurna djikalau tidak ada wanita didalamnja, kl wanita tidak terurus baik didalam masjarakat itu. Bahkan motor daripada masjarakat adalah wanita.


Hahahahaha kamu kok jadi kapok dengan lelaki sih? Ada-ada aja, ada aja :D


Selamat ulang tahun. Semoga hari ini membawa perubahan ke arah yang lebih baik dalam hidupmu. Ayo bersemangat TA, s2 dan pameran keliling dunia.


Semangat dong. Itu dari Kitab Betaljemur ada maknanya.


Kata mama saya: Mimpi rambut dipotong = perubahan dalam hidup.


Sabar dulu dengan tawaran-tawaran yang ngga penting2 amat. Mending tunggal kan ada dana.


Kalian sampe Bandung kapan? Kangen. Bawa foto2 ya.

1.12.09

#6

Nanti saatnya akan tiba Disuatu tempat yang jauh di bawah tanah kuberpijak Mereka semua akan menjadi gila Dan aku menjadi waras


18Feb2005
03:07
Jl.H.Hasan 22,Bdg

#5

(wah, nemu tulisan lama..)




Tidak ada yang aman di satupun celah di dunia ini.
Kita tidak memiliki apapun,
bahkan tubuh ini.

Semuanya berputar, berganti, menanjak, menyurut..
Entah secara paksa atau tidak.
Entah rela atau membuta.

Kita hanya setitik debu.
Yang mempunyai harapan sebesar merbabu.



6feb2009
insiden kecurian tas di kebon bibit, bdg.

i am their history